Tekanan Ekonomi Terhadap nilai jual produk Lokal
Penulis Nguru Kolo
Alumni Universitas Kristen Artha Wacana Kupang
Peneliti IRGSC
Ketidakadilan sosial mulai nampak didepan publik di kabupaten Sabu Raijua, dimana masyarakat kabupaten Sabu Raijua 99,9% bermata pencaharian petani dan penenun, dilihat dari persoalan yang ada contohnya seperti penenun, kain tenun salah satu produk yang mejamin penghidupan orang sabu laku dengan harga 300.000 worapi, ai raja 250.000, Hijgi dan stelan paling tinggi 200.000 produk Jadi.
Namun harga bahan baku semakin meningkat salah satunya benang katun karded 300.000 satu pasang, belum dihitung denga harga obat pewarna serta peralatan menenun dan proses pembuatan kain tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama.
Jika dikalkulasikan maka penenun sangat dirugikan dengan rendahnya harga jual dan bahan baku, obat-obatan pewarna meningkat dan kecapaian saat Lolo, mengikat, pewarnai motif, dan menenun diperkirakan seminggu satu kain. Sedangkan biaya operasional mereka sangatlah mahal karena BBM mahal.
Bagaimana mereka melawan ketidakadilan sosial itu, sedangkan menurut mereka tuntutan hidup, dengan terpaksa.
Siapakah bisa mendorong masyarakat atau petani menentukan harga jual sendiri terhadap produk-produk mereka sendiri, siapakah yang diharapkan dari mereka untuk melindungi dari ketidakadilan sosial itu.
Namun karena Ekonomi yang dicari sehari makan sehari sehingga mereka melepaskan produk mereka dengan berapa saja yang ditawarkan pembeli.
Tulisan ini merupakan hasil rangkaian pertemuan dialog, wawancara dengan masyarakat kabupaten Sabu Raijua. Bahwa ini yang mereka lakukan untuk melanjutkan hidup setiap hari.
Berdasarkan temuan ini, saya mewakili kepedihan masyarakat diharapkan kepada pihak-pihak yang memiliki hak dan kewajiban menangani masalah ini melihat dan menyelesaikan agar tidak ada pihak yang dirugikan entah dari sisi penawaran atau pun dari permintaan produk.
Komentar
Posting Komentar