Tentang Rumput Laut Desa Target

Gambaran Umum Penghasilan PRL
Petani rumput laut Merupakan petani lahan basa Yang Bekega dengan harapan paling Sedikit dari resiko-resiko yang besar.
Sehingga penghidupan masyarakat pesisir Sebagai petani Rimput laut adalah penghidupan yang berlaku ketidakpastian karena dari beberapa pekerjaan atau budidaya rumput laut itu memiliki risiko paling besar salah satunya yaitu perubahan iklim, laut bergelombang, tingginya gelombang, atau laut mengamuk, patok patah, tali putus 
dan penyakit yang disebabkan oleh pelaku perikanan lainnya Seperti penangkap ikan menggunakan racun dengan kendala laut kotor karena banyaknya hujan dan air lumpur masuk kedalam laut.
Sehingga penghasilan dari pada petani tumput laut tidak menetap, kata petani, kadang maju kadang mundur dan kadang jalan ditempat.
Pada Saat tumput laut jadi waktu itu Penghasilan masyarakat pesisir bisa ditetapkan yang biasanya berada dibulan Agustus sampai Desember, namun saat ini
Petani rumput laut sudah bimbang dengan keadaan apakah mereka ingin meninggalkan rumput laut itu atau tidak.
namun begitupun resikonya mereka tetap berjuang dan kesulitan dari petani itu paling utamanya adalah pembibitan. Sehingga pembibitan rumput laut sulit didapat oleh masyarakat, beberapa tahun terakhir ini masyarakat seluruh sabu Raijua kesulitan dalam pembibitan.
Aset Desa

Gambaran Umum Masalah Rantai Pasok
Pada memanen hasil petani rumput laut, petani menjual kepada pengepul lokasi yang merupakan anak buahnya pengepul besar, pengepul lokasi mengapa dikatakan anak buah karena dana atau uang yang akan ia membelikan rumput laut milik petani bersumber dari pengepul besar dan pengepul besar ini punya uang juga bersumber dari pengepul besar Makasar dan sementara itu menurut Ama Ande yang berprofesi sebagai pengepul besar di Sabu Raijua, mereka sebagai pengepul itu memiliki kendala lagi yang dialaminya karena retribusi kabupaten menurutnya sampai Rp 500/Kg yang dipotong oleh pemerintah kabupaten Sabu Raijua, sehingga pengepul mengambil keuntungan dari petani itu kalau kita lihat mencapai Rp.5000/Kg sebelum ada kebijakan Gubernur Nusa Tenggara Timur.
Masalah setelah ada kebijakan Gubernur Nusa Tenggara Timur membuat Pengepul sangat menderita apalagi kepada petani lahan rumput laut, yang merupakan kerja di panas matahari dilaut bergelombang dan berbagai macam risiko yang mereka hadapi di laut lepas.
Dampak terbesar dari hal tersebut adalah akses expor impor barang yang sebenarnya barang jualan yang ada disabu adalah dari Makassar.
Lalu yang menjadi persoalan kedua yaitu kebijakan penurunan harga dari harga normal yang biasa petani jual dari harga 32.000 menjadi Rp. 20.000- Rp. 24.000 di petani lokasi dengan membatasi akses kepedagang Makassar.
Kebiasaan para pengepul dengan pedagang Makassar itu membarter rumput laut dengan beras dan barang tersebut merupakan suatu barang yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di Sabu Raijua.
Dengan pengepul pun melayani bisa melalui telpon seluler saja beras langsung datang ke rumah. Sehingga petani pun sedih saat Bapak Gubernur mengambil kebijakan tersebut.

Komentar